ASSLAMUALAIKUM WR. WB.
hai teman teman gimana kabarnya? Jangan lupa ya tetap bersyukur kepada Allah yang telah membeeri rezeki kepada kita, sehingga kita masih diberi kesempatan untuk berpijak di atas bumuNya.
Ada suatu kebutuhan dalam hidup kita yang tidak dapat kita dapatkan dengan nemanya jual beli (dengan uang dan sebagainya). Kebutuhan ini hanya bisa dipenuhi apabila kta sudah mampu untuk mendapatkannya. Kebutuhan apa itu? kebutuhan sehat, makanya kita harus terus bersyukur sehingga kita masih diberi kesehatan.
ada sedikit puisi dari saya:
RENGEKAN KITA
Kekuatan kita dalam hidup bak seuntai daun kering yang jatuh dari pohon tua
Kita tak pernah tahu, kapan si daun kering itu jatuh
Kita juga tak pernah tahu, kapan kita akan jatuh dan terkapar sakit diatas ranjang
Semata-mata hanya Dialah yang maha mengetahui, Dialah yang maha mengerti
Kenikmatan sehat yang Dia berikan, adalah nikmat yang terindah
Kita hanya bisa menengadahkan tangan di hadapanNya
“Ya Allah, berikanlah kami nikmat sehat, sehingga kami bisa beribadah kepadaMu”
Rengekan-rengekan itu tak pernah kita lontarkan
Rengekan kita bak sebuah air yang mengalir deras di sebuah sungai dangkal
Cepat sekali menjauh dari hulu sungai, dan akan membawa benda-benda kecil di atasnya
Kita terkadang lupa, dan tidak menyadari, betapa besar nikmat yang Dia berikan
Kita hanya bisa terus merengek, meminta dunia yang melimpah
Tahukah kamu apa sebenarnya dunia yang paling berharga?
SEHAT
Sesuatu yang sepertinya jarang kita syukuri
Padahal inilah nikmat terindah, nikmat terdahsyat dariNya
Tubuh kita seperti pohon keropos
Sewaktu-maktu pohon itu akan tumbang, dan berserakan tak berharga
Saat kita terbujur kaku diatas ranjang menahan sakitnya cobaan
Menahan sebuah penyakit, yang entah mengapa bisa menyusup ke tubuh kita
Lalu kita merengek kembali di hadapanNya
“Ya Allah cobaan apa yang engkau berikan kepadaku”
Tak hanya itu, rengekan lain pun terus merasuki otak kita
“Tidak sayangkah Engkau kepada hambaMu ini”
Astaghfirullah
Hanya orang tak beriman yang berpikiran picik terhadap Rabbnya
Oleh
Heri Nurdiyansah
Fakultas pertanian, Tekik pertanian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar